Langkah Kolaboratif Presiden dan Penerapan Modifikasi Perilaku

Langkah Kolaboratif Presiden dan Penerapan Modifikasi Perilaku

107

Oleh: Mely Santoso*

REPORTASIANA – Revolusi Mental yang ditawarkan oleh presiden Indonesia ke-tujuh Joko Widodo merupakan sebuah usaha modifikasi perilaku, sebuah usaha intervensi skala nasional, sadarkah kita? Mampukah kita belajar darinya?

Perkuliahan kolaboratif yang dilakukan selama satu semester telah membukakan wawasan kita pada dunia yang dipenuhi dengan berbagai intervensi untuk mengikat psikologis target. Bagaimana maksudnya? Ambilah contoh dalam bidang ekonomi sebagai permisalan yang mudah, ingatlah tentang suatu produk yang paling sering Anda gunakan setiap hari, mungkin brand air mineral yang anda minum saat di kelas, tempat belanja yang paling sering Anda kunjungi, atau bahkan warung makan yang tidak pernah anda lewatkan ketika sarapan. Apa yang membawa Anda kembali dan kembali memilih produk dari penyedia layanan tersebut? Jawabannya terletak pada konsekuensi yang dihasilkan setelah kita menggunakan produknya. Pengulangan tersebut terletak pada seberapa ampuh teknik modifikasi yang diberikan, seberapa kuat atau besar reward yang diberikan atau lebih mudahnya seberapa banyak pleasure (dalam pemberian reward) yang berani diberikan dari pemilik layanan tersebut pada Anda. Pemberian teknik modifikasi perilaku pada hal ini disebut juga intervensi.

Intervensi dalam KBBI berarti sebuah “campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak” atau juga “upaya untuk meningkatkan kesehatan atau mengubah penyebaran penyakit”. Dalam psikologi, intervensi secara umum berarti suatu upaya untuk mengubah perilaku, pikiran dan perasaan menggunakan prinsip-prinsip psikologi. Penerapan intervensi sangat bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan subjek yang ingin diintervensi tentunya. Modifikasi perilaku, merupakan salah satu teknik intervensi yang memiliki turunan dari teknik psikoterapi behavior.

Modifikasi perilaku memiliki beberapa teknik turunan diantaranya modelling, token ekonomi, relaksasi, dan lain-lain seperti yang telah kita terapkan dan kita pelajari. Masing-masing teknik tersebut mempunyai prinsip-prinsip tersendiri agar penerapannya bisa sangat efektif. Prinsip efektifitas teknik yang paling umum dan disepakati dalam beberapa teknik adalah pemberian perlakuan yang langsung atau seketika perilaku yang tidak diharapkan (atau perilaku yang ingin dimodifikasi, behavior target) itu muncul, dengan demikian diharapkan pemberian perlakuan tersebut akan memberikan keampuhan dalam beberapa kali penerapan.

Menurut Rachmayani, intervensi dapat dibagi menjadi tiga level utama yaitu: 1) intervensi pada level individu; 2) intervensi pada level kelompok; dan 3) intervensi pada level system. Pada level individu, intervensi dapat dilakukan menggunakan teknik konseling individual, relaksasi, REBT dll. Pada level kelompok intervensi dapat berupa konseling kelompok, terapi bermain, PFA (psychological first aid), penyuluhan dan lain sebagainya. Sedangkan pada level system dapat menggunakan intervensi berbasis komunitas.

Revolusi Mental yang ditawarkan oleh presiden ke-tujuh Ir. Joko Widodo merupakan sebuah usaha modifikasi perilaku, sebuah usaha intervensi dengan skala nasional. Konsep Revolusi Mental ala presiden ini pertamakali dilontarkan dalam sebuah kolom opini di Harian Kompas tanggal 10 Mei 2014, ketika yang bersangkutan baru memulai awal masa kampanye sebagai calon presiden yang akan bertarung melawan Prabowo Subianto. Artikel ini mendapatkan respon balik yang sangat banyak oleh publik. Diantara mereka ada yang memberikan dukungan, masukan dan tak luput juga dari kritikan pedas publik atas konsep yang ditawarkan.

Jokowi memulai pembahasan tentang apa yang telah terjadi di Indonesia pasca reformasi. Menurutnya telah banyak perubahan yang terjadi di Indonesia, namun, perubahan tersebut baru menyentuh aspek fisik dari Negara. Sebagai contoh, Indonesia telah melakukan perubahan seperti: mengamandemen UUD, membuat undang-undang baru, otonomi daerah, dan mengadakan pemilihan secara demokratis. Menurut Jokowi, hal ini baru sebatas perubahan fisik. Walaupun ekonomi tumbuh, namun perilaku korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, sifat-sifat rakus, sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, dan sifat-sifat oportunis masih merajalela (Muluk, 2015).

Bersasarkan dasar yang telkah disebutkan diatas presiden ingin melakukan revolusi (sebuah perubahan mendasar) yang bertujuan untuk membangun bangsa (Nation Building) berlandaskan pembangunan karakter bangsa (Character building). Presiden Jokowi secara eksplisit menggunakan kerangka ideologi Trisakti dari Bung Karno sebagai “roh” dari Revolusi Mental tersebut. Tiga pilar Trisakti tersebut adalah: 1) Indonesia yang berdaulat secara politik; 2) Indonesia yang mandiri secara ekonomi; 3) Indonesia yang berkepribadian secara sosial budaya. Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa presiden mencoba atau mengusahakan sebuah gerakan perubahan dalam aspek sosiologis (nilai, norma dan budaya) dan psikologi (mindset, pola pikir, sikap dan tingkah laku) yang dirasa masih sangat kurang.

Baca Juga:  Jalanan Macet di Kota Malang

Ada beberapa paradigma yang sering digunakan untuk melakukan intervensi perubahan perilaku dalam rangka mengusahakan perubahan sosial diantaranya theory of planned behavior, theory of reasoned action dan theory of social cognitive model. Pada kelompok teori social cognitive model berasumsi bahwa perubahan perilaku dapat dilakukan dengan cara modelling tingkah laku orang lain, membangkitkan motivasi dan menimbulkan keyakinan (behavioral efficacy) bahwa setiap perubahan akan bisa mempunyai konsekuensi yang menyenangkan dan sekaligus menghindarkan konsekuensi negatif. Termasuk juga dalam teori ini paradigma seperti Health belief model (HBM) dan self determination theory (SDT).

Menyangkut perubahan sosial yang direncanakan ini, Muluk (2015) menyoroti ada beberapa asumsi yang perlu diperhatikan. Pertama, perubahan selalu mengandung kemungkinan konsekuensi yang menyenangkan (kemajuan, prestasi, dan sebagainya) ataupun yang tidak menyenangkan (trauma, pengorbanan, dll). Semua strategi perubahan harus mencoba memaksimalkan konsekuensi positif dan memakan sedikit mungkin konsekuensi negatif. Kedua, perubahan sosial harus dikomunikasikan atau disosialisasikan sehingga pemangku kepentingan (stakeholders) mengerti mau kemana dan bagaimana perubahan tersebut. Ketiga, lokus dari mana perubahan (misalnya : individual, keluarga, kelompok, komunitas, dan baik sampai ke level masyarakat) harus diidentifikasi secara jelas. Keempat, identifikasi ini akan berkaitan dengan strategi apa (misalnya; kampanye, persuasi, social marketing, gerakan sosial, perubahan organisasi, penggunaan sosial media, kesenian, perundang-undangan, dan sebagainya) yang akan digunakan sebagai tools untuk perubahan sosial tersebut. Kelima, peran pemimpin (leader dan leadership) dan pelopor atau agen perubahan (change agent) menjadi penting supaya perubahan bisa dimulai dan dijaga keberlangsungannya.

Terlepas dari berhasil atau tidaknya usaha modifikasi dan intervensi skala nasional yang diusung oleh Presiden Jokowi, kita patut menyadari bahwa tema Revolusi Mental merupakan sebuah usaha intervensi sosial psikologis yang sedikit banyak mengikuti prinsip-prinsip dan teknik-teknik modifikasi perilaku seperti yang kita pelajari. Sebagai mahasiswa psikologi yang menekuni bidang perilaku manusia baik secara individu maupun secara kelompok (sosial) dan sebagai warga negara Indonesia juga, kita seharusnya memahami penuh apa yang dicoba usahakan oleh konsep Revolusi Mental presiden ini. Kita seharusnya dapat menilai apakah konsep yang diusung sudah berhasil, sangat berhasil, biasa saja, atau bahkan tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam kehidupan kita. Karena kita menjadi subjek dari modifikasi perilaku yang bertajuk Revolusi Mental tersebut.

Alih-alih mengecam konsep presiden yang entah gagal atau berhasil ini, akan lebih baik jika kita melihat program modifikasi perilaku yang kita coba usahakan pada tiga (hanya tiga, sedang presiden 250 juta lebih) anggota kelompok kita dalam beberapa bulan terakhir. Sudah seberapa efektif token ekonomi yang kita berikan untuk menghilangkan perilaku malas teman kita? Seberapa efektif stimulus aversive yang kita gunakan untuk menghilangkan perilaku prokrastinasi kita ataupun anggota kelompok kita? Seberapa efektif relaksasi yang kita terapkan untuk menghilangkan kecemasan saat kuliah? Apakah setelah perkuliahan kolaboratif berakhir dan treatment yang diberikan berakhir juga perilaku sasaran perubahan akan kembali? Apakah kesulitan intervensi perubahan perilaku itu benar-benar nyata? Atau hanya dibuat-buat demi membanjiri story Instagram dengan caption “kolabs bikin collapse” “kapan semester enam berakhir?” Hanya masing-masing dari kelompok dan diri sendiri bukan yang tahu? Modifikasi perilaku akan terus digunakan, entah kita yang menjadi pemberi perlakuan ataupun kita yang akan diberi perlakuan. Hari ini internet sudah cukup memberikan kita perlakuan terlalu banyak sehingga mengubah perilaku kita, mengubah pola interaksi kita, dan pola pikir kita. Akankah ada hal yang lebih kuat dari internet dan smartphone yang akan memodifikasi perilaku kita secara signifikan di masa mendatang? Sebagai mahasiswa psikologi, yang mempelajari perilaku (dan perubahannya), terjerat dalam perubahan ataupun berjuang dalam sebuah perubahan itu murni pilihan anda, sungguh tidak ada intervensi dalam hal ini. Hanya dalam pengambilan keputusan ini.

Rujukan :
Muluk, H. (2015). Memaknai konsep revolusi mental Jokowi dalam pendekatan psikologi. Revolusi Mental: Makna dan Realisasi. HIMPSI. Jakarta

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, semester VI